TechnologyIndonesia.id – Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil minyak atsiri terbaik di dunia. Minyak atsiri (patchouli oil) dihasilkan ekstraksi daun nilam (Pogostemon cablin Benth) dan digunakan luas dalam industri parfum, kosmetik, dan aromaterapi karena aromanya yang kuat, woody, manis, dan musky.
Indonesia merupakan salah satu produsen nilam terbesar di dunia, dengan varietas utama seperti Nilam Aceh dan Nilam Jawa. Di balik keberhasilan ekspor nilam, terdapat kiprah Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) yang berhasil membawa produk nilam ke pasar internasional.
Ketua ARC USK, Syaifullah Muhammad menjelaskan salah satu produk unggulan ARC yaitu Nilam, yang kini telah berhasil dikomersialisasikan. Produk ini menjadi bukti keberhasilan hilirisasi riset yang berdampak ekonomi nyata.
“Hingga kini, ARC telah membina dan memfasilitasi ekspor nilam sebanyak 57 kali ke Prancis, menandai kemajuan besar dalam sektor agroindustri Aceh,” papar Syaifullah saat membuka rapat koordinasi dengan Direktorat Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN di USK Banda Aceh, Rabu (8/10/2025).
Ia menegaskan, keberadaan ARC telah menjadi kebanggaan bagi USK, hampir setiap program studi di USK menjadikan ARC sebagai contoh praktik baik ketika menerima visitasi akreditasi. Kolaborasi riset yang dilakukan ARC juga menjadi model ekosistem riset yang dinilai terbaik saat ini di Indonesia.
Pembentukan BRIDA Aceh
Dalam kesempatan tersebut, Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Muhammad Amin menyampaikan peran BRIDA/BAPPERIDA sebagai orkestrator dalam sistem riset daerah. Sementara pelaksanaan riset secara teknis berada di perguruan tinggi dan BRIN.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan BRIDA di berbagai daerah, kami nilai masih belum optimal. Ini menjadi tugas bersama untuk memperkuat jembatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ujarnya.
Tim ARC menilai posisi BRIDA sebagai manajerial sangat tepat. Dalam diskusi, muncul ide untuk mengembangkan skema kolaborasi beasiswa Degree by Research (DbR) bagi daerah, dengan tema riset yang menyesuaikan kebutuhan lokal.
Para peserta rapat juga menyampaikan perlunya komunikasi intensif antara pihak USK, khususnya melalui Rektor USK dengan Gubernur Aceh, agar pembentukan BRIDA di Provinsi Aceh dapat segera direalisasikan.
Syaifullah menegaskan, jika BRIDA Aceh nantinya terbentuk fokusnya dapat diarahkan pada pengembangan agroindustri seperti yang telah dilakukan ARC.
“Model ini terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah. Harapan lainnya, BRIDA tidak perlu membangun laboratorium baru, melainkan memanfaatkan fasilitas laboratorium USK yang sudah lengkap dan berstandar nasional,” ujarnya.
Baginya, USK dinilai memiliki dua kekuatan besar, yakni sumber daya manusia unggul dan infrastruktur laboratorium yang memadai.
“Dengan adanya BRIDA Aceh, kedua kekuatan ini dapat dimaksimalkan untuk riset yang berorientasi pada solusi nyata dan memiliki dampak nasional,” pungkasnya.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara BRIN, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat terbentuknya BRIDA Aceh dan memperluas dampak riset berbasis kebutuhan lokal menuju penguatan ekonomi daerah berbasis inovasi. (Sumber brin.go.id)
Nilam Produk Unggulan ARC USK, Bukti Keberhasilan Hilirisasi Riset
