Kurangi Dampak Banjir, OASE Sosialisasikan Biopori

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Bidang V Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE-KIM) yang diketuai istri Menteri Pertanian, Ayunsri Syahrul Yasin Limpo belajar teknik biopori yang bermanfaat sebagai area peresapan air serta tempat untuk mengomposkan bahan organik di Toko Tani Indonesia Center, Pasar Minggu (9/2/2020).

“Biopori adalah sarana untuk meningkatkan resapan air hujan dan menjadi tempat pembuatan kompos yang dapat dibuat dengan sangat mudah dan dengan cara yang sederhana,” ujar Ayunsri.

Kegiatan ini, lanjutnya, didasari rasa kekhawatiran terhadap menurunnya kualitas tanah sebagai dampak ikutan dari banjir, khususnya yang menimpa wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada awal 2020. Banjir tersebut terjadi karena intensitas hujan yang besar dalam waktu singkat yang membuat kecepatan serapan air ke dalam tanah tidak seimbang dengan datangnya air hujan. Selain itu kecepatan aliran air di atas permukaan tanah menyebabkan hanyutnya lapisan tanah subur dan bahan organik, inilah yang disebut erosi.

Bidang V OASE-KIM atau bidang Indonesia Hijau merupakan bidang yang berfokus pada program pekarangan pangan lestari dan penanaman pohon dan teknik bertanam sayur dengan biopori. Mendukung kegiatan OASE KIM ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanah melakukan pendampingan kegiatan, bimbingan teknis dan menyampaikan bahan-bahan publikasi yang terkait dengan kegiatan. Sebagai narasumber, hadir Kepala Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati.

Ladiyani menjelaskan, biopori bermanfaat sebagai resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Biopori juga menjadi tempat media pembusukan bahan organik yang bila sudah menjadi kompos dapat dipergunakan untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya.

“Biopori dapat dibuat dengan menggunakan bor dari besi/baja yang tidak berkarat. Lubang dibuat pada daerah aliran air, sehingga dapat berfungsi menangkap air hujan. Serta jangan lupa untuk memasukkan bahan organik hasil membersihkan pekarangan atau dari limbah sayuran rumah tangga ke dalam lubang secara periodik dan dapat dipanen pada akhir musim kemarau,” terangnya.

Biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Secara ukuran, Biopori ini terbilang kecil. Namun apabila dibuat pada lahan pekarangan dengan jarak 100 cm, maka setiap rumah tangga yang tinggal diperkotaan minimal akan memiliki 4-5 Biopori. Bila dalam satu RT terdapat 40 rumah, maka 160-200 biopori.

Satu biopori memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220,13 cm2. Sedangkan tanpa biopori, area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm2.

“Oleh karenanya, dengan hadirnya Biopori, kita dapat mengurangi kelebihan limpasan air hujan yang dapat menyebabkan banjir serta mampu memproduksi kompos dengan mudah secara mandiri yang dapat mengurangi sampah.” Tutup Ladiyani. (LRW, M.Is, dan Int).

Setiyo Bardono

Editor www.technologyindonesia.id, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).
Email: setiakata@gmail.com, redaksi@technologyindonesia.id

You May Also Like

More From Author